Judul Asli : Backtracking Events as Indicators of Usability Problems in Creation-Oriented Applications
Penulis :
DAVID
AKERS, University
of Puget Sound
ROBIN
JEFFRIES and MATTHEW SIMPSON, Google, Inc.
TERRY WINOGRAD, Stanford University
Abstrak
Asli :
A
diversity of user goals and strategies make creation-oriented applications such
as word processors or photo-editors difficult to comprehensively test.
Evaluating such applications requires testing a large pool of participants to
capture the diversity of experience, but traditional usability testing can be
prohibitively expensive. To address this problem, this article contributes a
new usability evaluation method called backtracking analysis, designed to
automate the process of detecting and characterizing usability problems in creation-oriented
applications. The key insight is that interaction breakdowns in
creation-oriented applications often manifest themselves in backtracking
operations that can be automatically logged (e.g., undo and erase operations).
Backtracking analysis synchronizes these events to contextual data such as
screen capture video, helping the evaluator to characterize specific usability
problems. The results from three experiments demonstrate that backtracking
events can be effective indicators of usability problems in creationoriented applications,
and can yield a cost-effective alternative to traditional laboratory usability
testing. Categories and Subject Descriptors: H.5.2. [Information
interfaces and Presentation]: User Interfaces— Evaluation/methodology General
Terms: Design, Information Systems Additional Key Words and Phrases: Usability
testing, backtracking analysis, undo, cost-effectiveness.
ACM
Reference Format:
Akers,
D., Jeffries, R., Simpson, M., and Winograd, T. 2012. Backtracking events as
indicators of usability
problems
in creation-oriented applications. ACM Trans. Comput.-Hum. Interact. 19, 2,
Article 16 (July
2012),
40 pages. DOI = 10.1145/2240156.2240164 http://doi.acm.org/10.1145/2240156.2240164
Pengkaji : ILHAM SATYABUDI
Ulasan :
1. Pendahuluan
Aplikasi
berorientasi penciptaan seperti word
processor, photo editor, dan 3D
Modeling sulit untuk divaluasi secara komperhensif, karena aplikasi-aplikasi
tersebut memiliki banyak tujuan penggunaan, tergantung pada keinginan user. Penggunaan metode usability testing tradisional untuk
memecahkan masalah ini, terbilang tidak efektif dan efisien, karena membutuhkan
biaya yang tinggi. Oleh karena itu, diciptakanlah metode baru untuk
mengevaluasi kegunaan perangkan lunak berorientasi penciptaan yang bernama backtracking analysis.
Konsep
kerja backtracking analysis adalah
dengan mengotomatisasi proses deteksi dan karakterisasi masalah dalam
penggunaan aplikasi berorientasi penciptaan. Caranya adalah dengan menggunakan
operasi yang dapat mencatat secara otomatis aktivitas suatu aplikasi. Contoh
operasinya adalah undo, redo, dan erase. Backtracking analysis mensinkronisasi operasi tersebut kedalam
bentuk data kontekstual seperti screen
capture video, sehingga tidak diperlukan perhatian secara intensif dari user.
Ada
beberapa tantangan dalam penggunaan metode backtracking
events ini. Pertama, mendeteksi masalah pengguaan dengan metode ini tidak
sepenuhnya menggambarkan tingkat masalah yang dialami user. Kedua adalah tidak semua masalah penggunaan aplikasi dapat
dideteksi backtracking events dan
tidak semua backtracking events mengindikasikan
suatu masalah.
2. Backtracking Analysis
Deskripsi dari backtracking analysis dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu sebelum pembelajaran, saat pembelajaran, dan setelah
pembelajaran. Pada bagian sebelum pembelajaran, metode backtracking analysis didefinisikan sebagai instrumen pada aplikasi
yang mencatat secara otomatis suatu perintah backtracking. Pada bagian ini juga dijelaskan bahwa backtracking
analysis membutuhkan partisipan yang menggunakan komputer dengan task yang berbeda-beda, serta tiap
komputer harus dilengkapi dengan fasilitas aplikasi screen capture.
Pada bagian saat pembelajaran, backtracking analysis dilaksanakan
dengan cara memperkenalkan eksperimen, menginstruksikan setiap partisipan untuk
bekerja secara simultan dalam menyelesaikan testing
task, dan merekam dengan screen
capture video, tentang berapa kali partisipan menggunakan perintah backtracking. Aktivitas selanjutnya
adalah mengekstrak backtracking episodes dari
hasil screen capture video sebelumnya.
Pada bagian terakhir, yaiut setelah pembelajaran, backtracking analysis melakukan analisis terhadap komentar
retrospektif, identifikasi masalah penggunaan, membuat peringkat severity pada setiap masalah, dan
melaporkan isu penggunaan kepada pengembang.
3. Waktu yang Tepat untuk Menggunakan Backtracking Analysis
Seperti metode evaluasi lainnya, backtracking analysis digunakan pada
kriteria-kriteria tertentu saja, yaitu aplikasi yang dievaluasi adalah yang
berjenis creation-oriented. Karena
pada aplikasi jenis tersebut, backtracking
event sering kali mengindikasikan tingkat kesulitan suatu aplikasi dalam
mencapai tujuan yang diharapkan user. Kriteria
yang lain adalah jenis backtracking event
yang sering digunakan adalah undo dan
erase. Selain itu, aplikasi yang akan
dievaluasi harus mendukung fitur event
logs untuk memfasilitasi proses analisis backtracking.
4. Hasil Kerja yang Berkaitan
Ivory and Hearst [2001]
mengklasifikasikan metode usability
evaluation menjadi lima tipe: testing
methods (e.g., traditional laboratory
usability tests [Dumas and Redish 1999; Rubin and Chisnell 2008], remote usability tests [Hartson et al.
1996], log file analysis [Hilbert and
Redmiles 2000], and A/B tests [Kohavi
et al. 2007]), inspection methods (e.g., Cognitive Walkthroughs [Wharton et al. 1992], heuristic evaluations [Nielsen and Molich 1990], and pluralistic walkthroughs [Bias 1991]), inquiry methods (e.g., contextual
inquiry, questionnaires, or
interviews), analytical modeling methods (e.g., GOMS [Card et al. 1983] and
CogTool [John et al. 2004]), and
simulation methods (e.g., Petri net
models [Rauterberg 1995] and
information processing models [Robertson et al. 1989]). Backtracking analysis masuk ke dalam kategori pertama, yaitu testing methods), dan merupakan turunan
dari critical incident technique Flanagan
[1954] yang mengoleksi dan menganalisis observer-observer yang terlatih.
5.
Penangkapan Konteks
untuk Backtracking Events
Backtracking
Events tidak
akan berfungsi tanpa adanya informasi kontekstual untuk menginterpretasikan
arti dari event-event yang ada. Salah
satu cara untuk menangkap konteks tersebut adalah dengan merekam setiap Backtracking Events yang dilakukan oleh
user. Langkah selanjutnya adalah menanyakan user
mengenai alasan dari setiap aksi Backtracking
Events yang mereka lakukan.
6.
Efektifitas
Efektifitas yang dimaksud disini adalah
kombinasi dari hit rate (persentase
dari masalah penggunaan yang dapat diidentifikasi) dan false alarm rate (persentase dari events yang salah diidentifiasi sebagai masalah penggunaan). Dari
keduanya, diketahui bahwa jumlah masalah yang dideteksi metode-metode ini dapat
dibandingkan dan diverifikasi. Seperti kebanyakan pendekatan event-based lainnya, Backtracking Analysis menghasilkan false alarms, tetapi tetap pada jumlah
yang telah diperkirakan (27% pada Sketch Up dan 4.9% pada Photoshop).
7.
Kesimpulan
Hasil dari beberapa eksperimen yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa Backtracking
Analysis menyediakan sebuah pendekatan yang menjanjikan untuk mendeteksi
masalah dalam aplikasi yang berorientasi penciptaan, seperti SketchUp dan
Photoshop. Hal ini pun juga didukung dengan hasil problem detection rate yang memuaskan, serta komentar yang positif
dari usability evaluator yang
profesional yang telah melakukan eksperimen dengan metode backtracking analysis ini.